Pernahkah kam bertanya-tanya tentang dari manakah benang sutra berasal ? Yap benang sutra berasal dari ulat sutra atau Bombyx Mori L. Ulat sutra ini kemudian akan menghasilkan kepompong yang akan diolah menjadi benang sutra. Lalu bagaimanakah proses pembuatan benang sutra dari ulat sutra tersebut hingga bisa menjadi baju seperti yang saat ini kita kenakan?

ulat10

Untuk memproduksi benang sutra ini kita membutuhkan waktu hingga 28 hari. Mulai dari proses pembibit telur ulat sutera, hingga pemintalan benang. Setelah telur menetas selanjutnya akan ditaruh ditempat penangkaran dan diberi makan daun murbei daun murbei ini adalah makanan kesukaan ulat sutra. Nah, selanjutnya proses pembuatan benang sutra pun dimulai dari sini.

Pengeringan Kokon (Kepompong)

Pengeringan kepompong ini bertujuan untuk mematikan pupa dan mengurangi kadar air pada lapisan sutera dan pupa. Perubahan pupa menjadi ngengat ini membutuhkan waktu hingga lebih kurang 12 hari setelah ulat menjadi kokon. Maka, sebelum menjadi ngengat, pupa harus dimatikan dulu untuk menghindari kerusakan kokon. Beberapa cara untuk mengeringkan kokon diantaranya adalah dengan penjemuran pengukusan, dan pengovenan.

Flossing Kokon

Flossing adalah proses yang bertujuan untuk menghilangkan cocoon floss (serabut serat) atau lapisan luar kokon dari permukaan kulit kokon. Proses ini menggunakan floss remover yaitu alat pembersih serabut kokon atau menggunakan kayu yang sudah diiris-iris pinggirannya. Lapisan luar kokon terdiri dari filamen yang kusut dan terputus yang menyerupai bulu, sehingga perlu dihilangkan agar tidak menghambat pada saat pencarian ujung filamen, sehingga filamen pada kokon dapat mudah diurai saat proses reeling.

Seleksi Kokon

Kualitas benang akan bergantung dengan kualitas kokon yang dipintal. Kokon yang tidak seragam akan menyebabkan panjang dan tebal benang tidak merata sehingga akhirnya menghasilkan benang yang kurang baik. Begitu juga dengan warna dan bentuk kokon yang tidak seragam akan menghasilkan filamen kokon yang terputus-putus yang akhirnya dapat menurunkan kualitas benang. Kokon yang harus ditolak adalah kokon yang berisi ulat mati, kokon yang berujung tipis, kokon bernoda, kokon berkulit tipis, kokon tertimpa/tergencet, kokon yang berbentuk abnormal, kokon berserabut, kokon berkulit jarang (lose shell cocoon), kokon dengan bekas frame pada kulitnya, dan kokon yang berjamur.

Perebusan Kokon

Perebusan kokon bertujuan untuk melarutkan serisin yang bersatu dengan filamen. Bagian luar filamen sutera terbentuk dari serisin sehingga filamen yang satu dengan yang lain saling merekat. sehingga untuk melepaskan filamen kokon cara yang digunakan adalah dengan perebusan kokon. Sehingga kulit kokon menjadi mengembang, lunak dan memungkinkan filamen sutera diurai dan digulung pada hapsel tanpa kusut.

Proses perebusan ini mempengaruhi mutu benang sutera yang dihasilkan. Semakin banyak jumlah benang yang putus selama proses reeling yang diakibatkan oleh proses perebusan yang terlalu lama maupun terlalu sebentar berarti semakin rendah persentasi daya gulung filamen, dan panjang filamen yang terbentuk akan semakin pendek.

Reeling Kokon

pada tahap ini, filamen disatuan untuk kemudian di pintal menjadi benang sutera. Tujuannya adalah untuk mengurai filamen pada kokon, menyatukannya dan menggulungnya pada haspel sehingga menjadi benang raw silk atau benang mentah.

Rereeling kokon

Rereeling atau penggulungan ulang adalah proses menggulung kembali filamen sutera yang telah digulung pada penggulung kecil (hasil reeling) untuk dipindahkan ke penggulung yang lebih besar (keliling 150 cm) yaitu dalam bentuk strengan. Dalam bentuk strengan inilah untuk memudahkan penimbangan dan packing, atau untuk menyiapkan proses selanjutnya. Pembasahan reel, sebelum dan selama rereeling diperlukan untuk melunakkan dan mengembangkan serisin sehingga memudahkan rereeling.

Pencelupan benangRaw Silk

Pencelupan benang bertujuan untuk melarutkan serisin yang masih terdapat pada benang raw silk, sehingga benang tidak mudah putus saat dilakukan proses winding. Pencelupan benang ini dilakukan apabila benang dalam bentuk gulungan masih direkatkan serisin yang disebabkan setelah proses rereeling benang tidak direlaksasi dengan benar, sehingga benang yang satu dan lainnya masih saling merekat dan semakin mengeras ketika benang mengering.

Winding

Winding merupakan proses menggulung benang dari bentuk untaian benang ke bentuk bobbin. Tujuan proses ini, yaitu untuk membuang benang-benang yang lemah dan tidak rata, juga untuk memudahkan saat proses doubling atau perangkapan.

Doubling

Doubling atau proses perangkapan bertujuan untuk merangkap benang tunggal atau single menjadi benang multiple atau ganda, Benang dirangkap sesuai kebutuhan (2,3 atau 4 rangkap) dengan menggunakan mesin doubling

Twisting

Benang raw silk yang sudah di doubling perlu di twisting, tujuannya untuk mencegah pecahnya benang saat dilakukan proses degumming. Selain itu, juga dapat memberi daya penutup (covering capacity) yang lebih besar, dibanding dengan benang single dengan denier yang sama. Ada dua arah twist untuk menggintir benang, yaitu “Z” twist, untuk ke arah kiri dan “S” twist, untuk ke arah kanan.

Setting

Setting benang twist bertujuan untuk mengubah snelling atau menggulung benang setelah proses twisting agar benang menjadi lurus, sehingga saat  proses rewinding benang tidak mudah putus.

Rewinding

Benang yang telah diset selanjutnya direwind (dipindahkan) dari bobbin ke haspel besar untuk dijadikan benang dalam bentuk untai atau ukel.  Putus benang dalam proses ini akan menurunkan efisiensi kerja dan meningkatkan jumlah limbah suteranya.

Wah, cukup sulit ya proses pembuatan benang sutra.

Sumber : nuraeninia.blogspot.co.id

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Sebuah Balasan